Sekda: Bupati dan Wali Kota Tidak Setuju Berlakukan PSBB

Ambon – Sekda Maluku, Kasrul Selang menyatakan, bupati dan wali kota di daerah ini tidak  menyetujui pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam menyikapi penyebaran wabah COVID -19.

“Saat teleconference tanggal 8 April, ternyata tidak ada satu pun dari sembilan bupati dan dua wali kota di Maluku yang menyetujui PSBB,” katanya dikonfirmasi, Kamis.

Kasrul menyatakan para bupati dan wali kota menyetujui penerapan pengetatan pintu keluar maupun masuk Maluku sesuai Maklumat Gubernur, Murad Ismail.

“Jadi semua sepakat melakukan pengetatan pintu keluar maupun masuk masing – masing daerah, dan menangani COVID-19 sesuai standar operasional prosedur (SOP),” ujarnya.

Kasrul yang juga Ketua Harian Gugus Tugas Pencepatan Penanganan COVID-19 Maluku itu mengemukakan, SOP yang telah disepakati antara lain ada dua pola penanganan terhadap setiap penumpang yang masuk ke Maluku, baik melalui kapal laut maupun pesawat terbang.

“Untuk orang Maluku yang pulang ke daerah dipersilahkan melakukan isolasi mandiri, sedangkan yang non Maluku, fasilitas karantina untuk mereka sudah disiapkan,” katanya.

Disinggung satu dari tiga pasien dalam pengawasan (PDP) asal Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah terkonfirmasi terinfeksi virus Corona atau COVID-19, dia menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan swap dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) Kelas II Ambon ternyata positif.

Menurutnya, pasien 03 saat ini menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit dr. F.X. Soehardjo Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) IX Ambon, di Desa Halong bersama tiga PDP lainnya.

Pasien 03 bersama dua PDP lain asal Saparua, merupakan satu keluarga yang berdasarkan hasil tes cepat menggunakan rapid diagnostic test (RDT) test kit, pada Minggu (5/4) dinyatakan positif, sehingga ketiganya dievakuasi ke Ambon untuk perawatan intensif.

Kasrul mengaku, pasien 03 akan tetap menjalani isolasi di RS Lantamal IX Ambon dan tidak dipindahkan ke RSUD dr. Haulussy, Kudamati, karena kondisi klinisnya masih baik.

“RS Haulussy hanya dikhususkan untuk isolasi kasus PDP atau pengidap COVID dengan kondisi kesehatan parah atau kritis saja,” katanya.

Sedangkan dua PDP asal Saparua lainnya yang merupakan keluarga dari pasien 03, menurut Kasrul hasil pemeriksaan swap di BTKL-PP Kelas II Ambon belum keluar, jadi belum diketahui hasilnya.

Hingga saat ini, katanya sudah terdapat tiga pasien terkonfirmasi terinfeksi COVID-19 di Maluku, di mana pasien 01 asal Bekasi Jawa Barat, sudah dinyatakan sembuh sejak 1 April dan telah kembali ke daerah asalnya.

Sedangkan pasien 02 merupakan warga Kota Ambon berusia 74 tahun dengan riwayat perjalanan dari Makassar, Sulawesi Selatan dan tiba di Ambon pada 14 Maret 2020. Pasien tersebut saat ini sedang menjalani isolasi dan perawatan intensif di Rumah Sakit Tentara (RST) dr.

Sedangkan pasien 03 bersama suaminya memiliki riwayat perjalanan dari Raha, provinsi Sulawesi Tenggara dan baru tiba di Ambon pada 18 Maret 2020.

Dia berharap, penanganan terhadap dua pasien terinfeksi corona tersebut berjalan optimal, sehingga kondisi mereka berangsur-angsur pulih.

Kasrul juga membenarkan satu pasien PDP asal kabupaten Buru Selatan telah dievakuasi ke Ambon oleh tim medis RS F.X Soehardjo Lantamal Ambon pada Rabu (8/4) untuk menjalani isolasi dan perawatan intensif. (Ant)